Singapura selalu memiliki daya tarik sendiri bagi para wisatawan, khususnya dari Indonesia. Kondisi jalanan yang bersih, sistem transportasi yang unggul, kedisiplinan para warganya dan jaminan keamanan dan kenyamanan yang ditorehkan menjadi nilai tambahan tersendiri. Tidak hanya itu, Singapura juga kaya akan destinasi wisata yang populer hingga dikenal sampai mancanegara seperti Sentosa Island, Bugis Street, hingga kawasan Orchard Road. Selain ketiga kawasan yang sudah disebutkan, terdapat salah satu destinasi wisata yang tidak kalah untuk menarik para wisatawan berkunjung, yaitu Haji Lane.

Nama Haji Lane mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga para wisatawan yang berkunjung ke Singapura. Sebab, kawasan ini bukanlah destinasi yang baru di negera tetangga tersebut. Berlokasi di Kampong Glam, Haji Lane menjadi salah satu tempat yang paling menarik dan otentik dibandingkan kawasan lainnya. Dipenuhi oleh toko-toko unik, restoran-restoran lokal dan aneka macam bar menjadikan tempat ini sebagai surga bagi pecinta seni dan budaya. Toko-tokonya pun memiliki arsitektur khas Asia Selatan yang dinamis serta dihiasi dengan warna-warna cerah dan terkadang, seni jalanan seperti grafiti.

Haji Lane, Singapore.
Sumber foto: Vanie Castro

Haji Lane juga dikenal sebagai kawasan yang paling multikultural di Singapura. Nama Haji Lane sendiri merujuk dari agama islam yang dipengaruhi oleh para imigran muslim yang datang dan menetap di sana. Diantaranya adalah imigran dari Indonesia dan  Malaysia serta kelompok yang beretnis India, Arab, dan Cina. Kata Haji sendiri diambil dari istilah kegiatan seorang pria yang kembali dari ziarah tahunan di Mekkah (Haji).

Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern Singapura yang terkenal dengan banyaknya gedung pencakar langit, Haji Lane tetap menjadi kawasan yang memiliki identitasnya sendiri. Kawasan ini justru lebih banyak dipenuhi oleh ruko-ruko yang hanya memiliki dua lantai dan luas jalan yang berjarak 200 meter. Meskipun terbilang cukup sempit, kawasan ini justru menjadi alternatif para wisatawan yang bosan dengan suasana metropolitan negeri singa tersebut. Khususnya para pelancong hipster.

Yang benar-benar membuat Haji Lane memiliki daya tarik yang cukup unik dibandingkan kawasan Singapura lainnya adalah seni jalanan yang esentrik. Coretan mural warna-warni berhasil membuat tembok-tembok ruko lama yang sudah terlihat usang menjadi semakin hidup. Mural yang paling khas dari kawasan ini adalah gambar seperti tokoh pejuang dengan gaya kuno yang turut dibalut dengan perhiasan seperti orang Amerika Latin Kuno.

Haji Lane, Singapore

Sterotip masyarakat akan mural atau grafiti biasanya tidak jauh hasil dari penyelinapan seniman jalanan yang ingin mengekspresikan karya seni mereka secara diam-diam. Namun faktanya, mural yang memenuhi kawasa Haji Lane justru adalah sebuah tugas yang diminta oleh para pemilik bar atau kafe lokal di sana. Meski daya tarik utama Haji Lane adalah karya-karya mural yang membuat kawasan ini “Instagramable”, toko-toko yang di sana pun menarik perhatian para pelancong, khususnya yang ingin menikmati kuliner dan berbelanja yang sangat berbeda dari tempat-tempat mainstream biasanya.

Blu Jaz Cafe adalah salah satu tempat yang sudah menjadi teman setia para pecinta musik Jazz dan juga sudah banyak dikenal oleh para wisatawan yang berkunjung ke Haji Lane. Suguhan musik live dan aneka minuman yang hebat membuat Anda betah berlama-lama di sini. Tempat yang juga dikenal dengan muralnya yang khas ini juga mengadakan pesta bawah tanah dengan aliran musik yangs sedikit berbeda.

Blu Jaz Cafe
Blu Jaz Cafe.

Sedangkan untuk para wisatawan yang ingin berbelanja, terdapat toko lucu dan unik yang membuat Anda tidak tahan untuk menambah koleksi busana maupun aksesoris. Dulcetfig dan Modparade adalah dua dari sekian banyak toko yang unik. Dulcetfig memiliki tiga kucing yang akan menyapa Anda ketika berkunjung. Toko ini pun memiliki koleksi vintage yang lucu-lucu. Berbeda dengan Modparade yang digadang-gadang sebagai toko yang paling hip atau modern. Identitasnya pun tercermin pada koleksi busana dan aksesorinya yang cenderung minimalis.

Haji lane menjadi salah satu bentuk reaksi nyata terhadap pemandangan kota yang cenderung homogen oleh gedung-gedung pencakar langit. 10 tahun yang lalu, sudut kota ini tidak bernyawa. Kini, Haji Lane justru semakin berteriak bahwa mereka dapat menjadi harapan baru untuk menghidupkan seni di Singapura.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *